Puisi Islami

Kumpulan Puisi Islami Lengkap

Select Menu
  • Home
  • Blogging
    • Tutorial Blogspot
    • CSS
    • jQuery
    • Widget
  • Tools
    • Font Awesome
    • HTML Editor
    • HTML Encrypter
    • Code Color
    • Responsive Cek
  • Sitemap
  • Static Page
  • Error Page
Home » Kisah Sahabat » Jangan Berhenti di Tengah Badai

Kamis, 29 September 2011

Jangan Berhenti di Tengah Badai

Unknown
Add Comment
Kisah Sahabat
Kamis, 29 September 2011
Alhamdulillah Kisah Islamiah bisa hadir kembali di malam ini.
Kali ini admin akan mencoba menulis tentang bagaimana seharusnya menyikapi badai yang datang melanda.
Apakah kita harus diam saja atau meneruskan perjalanan saat ada badai atau bahkan mundur.
Nah untuk itu mari kita baca sekilas cerita berikut ini yuk, mungkin bisa dijadikan bahan renungan untuk ikta semua.





Kisahnya.
Pada suatu hari yang terlihat mendung, ada sebuah keluarga yang ingin mengadakan perjalanan ke sebuah kota terpencil yang terletak lumayan jauh dari rumahnya.
Sebut saja nama keluarga itu keluarga Anton (maaf bilamana ada kesamaan nama).
Bapak Anton memiliki seorang istri dan 2 orang anak yang bernama Rudi dan Haryati. Setelah keluarga tersebut berunding, akhirnya terjadi kesepakatan bahwa yang berangkat adalah Bapak Anton dan putra sulungnya Rudi.

Setelah hari yang ditentukan datang, mereka berdua segera berangkat menuju kota terpencil itu untuk mengunjungi teman yang sudah lama tidak dijumpainya, dan kebetulan baru kali ini Rudi ikut dengan ayahnya ke daerah tersebut.
Setelah persiapan selesai, mereka berangkat dari rumah jam 8 pagi.
Bapak Anton dan Rudi menatap langit dan dilihatnya daerah yang dituju awan begitu sangat tebal, nampak sekali kalau di sana akan segera turun hujan.
Karena sudah memiliki SIM, Rudi disuruh ayahnya untuk menyetir mobil.

Badai Datang Melanda.
Setelah beberapa puluh kilometer perjalanan, tiba-tiba saja awan hitam datang dibarengi dengan angin yang kencang menerjang.
Rudi meilihat beberapa kendaraan mulai menepi dan berhenti karena takut kalau terjadi apa-apa di jalan.
"Bagaimana Ayah? Apakah kita akan berhenti?" tanya Rudi kepada ayahnya.
"Teruslah mengemudi," jawab ayah.

Rudi akhirnya terus menjalankan mobilnya.
Langit semakin gelap gulita, angin bertiup makin kencang. Hujan pun turun dengan deras, makin lama makin lebat bahkan beberapa pohon bertumbangan karena diterpa oleh angin kencang. Suasana semakin menakutkan, Rudi melihat kendaraan-kendaraan besar juga mulai menepi dan berhenti.
"Ayah...," kata Rudi yang makin cemas.
"Teruslah mengemudi," perintah ayahnya sambil melihat ke depan.

Rudi Tetap Mengemudi Meski dengan Susah Payah.
Hujan lebat menghalangi pandangan sampai hanya berjarak beberapa meter saja. Angin pun mulai mengguncang-guncangkan mobil mereka. Rudi ketakutan, tapi tetap mengemudi meskipun dengan sangat perlahan sekali.
Setelah melewati beberapa kilometer ke depan, Rudi merasakan hujan mulai reda dan angin mulai berkurang. Setelah beberapa kilometer di depan, sampailah mereka pada daerah yang kering dan mereka melihat matahari bersinar muncul dari balik awan.
"Silahkan kalau berhenti, dan keluarlah," kata ayah yang tiba-tiba sambil menatap Rudi.
"Kenapa justru sekarang ayah? Kenapa tidak tadi waktu hujan lebat?" tanya Rudi keheranan.
"Agar engkau bisa melihat keadaan dirimu jika engkau berhenti di tengah badai," jawab ayah.

Pelajaran Berharga.
Rudi pun berhenti dan keluar dari mobil, dia melihat jauh di belakang sana badai masih berlangsung. Rudi membayangkan mereka yang terjebak di sana sambil berdoa, semoga mereka selamat.
Rudi tidak bisa membayangkan kondisinya jika tadi berhenti di tengah badai.
Dia menjadi tahu sekarang, bahwa ayahnya sedang mendidiknya tanpa dia sadari.
Rudi mengerti bahwa jangan pernah berhenti di tengah badai karena akan terjebak dalam ketidakpastian dan ketakutan. Dan rasa was-was akan muncul, kapankah badai akan berakhir, serta apa yang terjadi selanjutnya.

Setelah lamunannya terhenti oleh sapaan ayahnya, Rudi tiba-tiba saja memeluk ayahnya sambil berkata,
"Terima kasih ayah, Rudi sangat menyayangi Ayah," kata Rudi.
"Iya Nak, ayah juag menyayangimu," kata ayah.
Jadi ikut terharu yang menulis jadinya kawan.

Sebuah pelajaran yang diberikan oleh ayah Rudi.
Selama masih memungkinkan, tetaplah berjalan walaupun sangat perlahan, menuju batas matahari akan muncul kembali. Kecuali kalau badai benar-benar menghentikan langkah sehingga tidak dapat bergerak lagi.

Jangan pernah menyerah kawan, teruslah melangkah.
Sekali lagi mohon maaf kalau ada kesamaan nama dan tempat.
Terima Kasih.
Suka Artikel? Bagikan: Facebook Twitter Google+

0 Comments

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

About Me

Unknown
Lihat profil lengkapku

Entri Populer

  • Detik-Detik Wafatnya Nabi Muhammad SAW
    Detik-Detik Wafatnya Nabi Muhammad SAW
    Assalamu'alaikum wr wb. Kisah yang sangat mengharukan, dijamin akan meneteslah semua air mata bagi siapa saja yang membacanya. Bukan saj...
  • Pohon Tumbuh dari Batu
    Pohon Tumbuh dari Batu
    Atas tantangan petinggi Quraisy untuk menunjukkan mukjizat, Rasulullah SAW mampu membelah batu dan keluarlah pohon besar dari tengah-tengah ...
  • Tobat Sehari Hapus Dosa 40 Tahun
    Tobat Sehari Hapus Dosa 40 Tahun
    Pada suatu ketika di daerah yang dihuni Bani Israil tidak turun hujan cukup lama. Penyebabnya adalah karena ada salah seorang dari kaum itu ...
  • Makam Menjadi Istana
    Makam Menjadi Istana
    Kisah islami teladan yang kesekian kalinya tentang ahli kubur yang memiliki istana megah karena di masa hdupnya telah menjadikan rumahnya s...
  • Kristiani Masuk Islam berkat Sedekah
    Kristiani Masuk Islam berkat Sedekah
    Seorang muslim yang kaya raya tidak jadi memperoleh dua istana yang cantik karena menolak bersedekah. Lantas dua istana itu diberikan kepada...
  • Siasat Iblis Menipu Anak Nabi
    Siasat Iblis Menipu Anak Nabi
    Kisah Islamiah hadir kembali dan Alhamdulilah kali ini bisa bercerita tentang anak Nabi yang ditipu oleh si Iblis Laknatullah. Kisah ini dip...
  • Diazab Gila Karena Menelantarkan Keluarga
    Diazab Gila Karena Menelantarkan Keluarga
    Setiap perbuatan pasti ada balasannya. Hal itulah yang diterima oleh Mansyur karena menelantarkan anak serta istrinya demi perempuan lain da...
  • Melihat Pahala Saat Sakaratul Maut
    Melihat Pahala Saat Sakaratul Maut
    Pahala dari apa yang kita perbuat ternyata akan diperlihatkan juga saat sakaratul maut . Begitu juga yang dialami oleh seorang sahabat Rasul...
  • Tundukkan Sungai Nil Dengan Surat
    Tundukkan Sungai Nil Dengan Surat
    Khalifah Umar bin Khattab memiliki banyak sekali karomah . Salah satunya adalah menaklukkan sungai Nil yang pada saat itu dikatakan selalu...
  • Dialog Raja dan Malaikat Maut
    Dialog Raja dan Malaikat Maut
    Sahabat Yazid Arruqasyu meriwayatkan, pada masa Bani Israil ada seorang penguasa zalim . Dalam berkuasa, raja tersebut menindas rakyat dan ...

Labels

  • Ahli Kubur
  • Kisah Jin
  • Kisah Karomah
  • Kisah Malaikat
  • Kisah Nabi
  • Kisah Pahlawan Islam
  • Kisah Sahabat
  • Kisah Tobat
  • Mimpi Rasul
  • Mukjizat
  • Sakaratul Maut
  • Selayang Pandang
  • Sufi
  • Walisanga
  • Wanita Teladan

Labels

  • Ahli Kubur
  • Kisah Jin
  • Kisah Karomah
  • Kisah Malaikat
  • Kisah Nabi
  • Kisah Pahlawan Islam
  • Kisah Sahabat
  • Kisah Tobat
  • Mimpi Rasul
  • Mukjizat
  • Sakaratul Maut
  • Selayang Pandang
  • Sufi
  • Walisanga
  • Wanita Teladan

Labels

  • Ahli Kubur
  • Kisah Jin
  • Kisah Karomah
  • Kisah Malaikat
  • Kisah Nabi
  • Kisah Pahlawan Islam
  • Kisah Sahabat
  • Kisah Tobat
  • Mimpi Rasul
  • Mukjizat
  • Sakaratul Maut
  • Selayang Pandang
  • Sufi
  • Walisanga
  • Wanita Teladan

Labels

  • Ahli Kubur
  • Kisah Jin
  • Kisah Karomah
  • Kisah Malaikat
  • Kisah Nabi
  • Kisah Pahlawan Islam
  • Kisah Sahabat
  • Kisah Tobat
  • Mimpi Rasul
  • Mukjizat
  • Sakaratul Maut
  • Selayang Pandang
  • Sufi
  • Walisanga
  • Wanita Teladan
Copyright 2014 Puisi Islami - All Rights Reserved
Template By Jenny Psychicfio